Berfikir

Imam Ali as: “seseorang yang membuka diri terhadap berbagai pendapat akan lebih mendapatkan kebenaran daripada jatuh kedalam kesalahan.

Siapa saja yang melakukan sesuatu tanpa melalui proses berpikir, akan mengalami kesulitan-kesulitan. Berpikir sebelum berbuat agar selamat dari rasa sesal. Orang-orang yang berakal banyak belajar dari pengalaman. Karena pengalaman itu memberikan pengetahuan baru, dan karakter seseorang itu akan teruji dengan terjadinya perubahan-perubahan zaman.”
Jami’ Ahadits asy-syi’ah. Juz 13, hal 314.

Imam Ali as berkata: “akar keselamatan dari ketergelinciran adalah, berfikir sebelum melakukan sesuatu, dan menimbang-nimbang sebelum berbicara.” 
📚Mizanul hikmah, 9/226.

Imam Ali as:

“Inti dari akal adalah berfikir, dan buahnya adalah  keselamatan.”
📚Ghurarul Hikam.

Imam Ali as: “orang mu’min itu selalu mengingat Allah swt, banyak berfikir, selalu bersyukur atas nikmat-nikmat, dan bersabar atas cobaan.”
📚Ghurarul Hikam

Kategori:Ahulbayt, Akhlak, Hadis, HIKMAH

Akhlak Muhammadi

Ayatullah Mujtahidi rahmatullah alaih: 

“saya masih ingat di masa lalu ketika ada orang yang sedang marah maka orang disekitarnya akan berkata: “semoga Allah mengaruniaimu akhlak Muhammadi”, begitulah mereka menasehatinya.

 Kalimat itu sangat kental di masyarakat, dan saya masih mengingatnya.

Orang-orang tua ketika bertemu dengan orang yang sedang marah maka mereka akan menasehatinya: “hendaknya kamu memiliki akhlak Nabi saw”.
Adapun sekarang sebagian tidak memiliki akhlak yang baik, membuat hati istri-istri mereka bersedih, jika suami macam ini meninggal maka istrinya akan senang.
Saya mengenal salah seorang seperti itu, ketika dia meninggal, istrinya merasa senang dan anak-anaknya juga merasa gembira dan berkata: “ayah yang suka memaki/marah-marah telah tiada, sekarang kita telah bebas.!”
Dalam sebuah hadis disebutkan: “berusahalah untuk menjadi orang yang ketika masih hidup masyarakat mencintaimu dan ketika kamu meninggal maka mereka akan menangisimu.”
Orang tadi sangat bertolak belakang dengan hadis ini. 

Kita harus berusaha menjadi baik sampai ketika kita meninggal istri dan anak-anak kita menangisi kita. Sekarang, apakah kita telah seperti itu?
Apakah Ayah, ibu, teman-teman, para tetangga mencintai kita? Dalam hadis berusahalah bersosial yang baik dengan masyarakat sampai ketika kamu hidup mereka mencintaimu dan ketika kamu meninggal mereka akan menangisimu.
Kalian saksikan Imam (Khomeini)? Ketika beliau hidup masyarakat antusias untuk melihat dan bertemu dengan beliau, dan ketika beliau telah meninggal, kalian telah melihat apa yang terjadi.” 

(jutaan orang menangisi kepergian beliau baik di dalam iran maupun diluar iran.)

Rizki yang telah disiapkan 300tahun silam

Seseorang berkeluh kesah kepada seorang yang bijak dan berkata: “karena terdesak oleh kelaparan maka saya terpaksa menjual Guci peninggalan kakek buyut saya yang merupakan peninggalan yang telah berumur 300 tahun.”
Orang bijak tersebut berkata: “Allah swt telah menyiapkan rizki untukmu dari 300 tahun yang lalu, sekarang kamu tidak bersyukur seperti ini?? ”

Tetangga baru yang sangat baik

Ayatullah Nashiri menceritakan tentang sifat Imam Khomeini qs: “pertama, ketika Imam Khomeini berada di sebuah desa bernama neauphle-le-chateau di dekat kota Paris, Prancis, para penduduk daerah tersebut merasa tidak nyaman karena banyaknya orang yang silih berganti ke rumah Imam, dan susana menjadi bising akibat banyaknya mobil yang berdatangan dan pergi. Ada salah seorang tetangga yang datang dengan menampakkan wajah tidak senang akibat banyaknya mobil yang membuat bising dan hilangnya suasana desa yang selama ini tenang.  Akan tetapi dengan berjalannya waktu pandangan mereka semua kepada Imam dengan cepat berubah.
Dan salah satu bentuk sosial yang dilakukan oleh Imam yang sangat memiliki dampak positif di hati penduduk daerah tersebut adalah pada malam kelahiran Nabi Isa al-Masih as,  beliau menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh penganut nasrani di dunia atas hari kelahiran Isa al-Masih as, dan lebih dari itu beliau mengisyaratkan kepada kami agar membagi-bagikan hadiah yang baru datang dari Iran. Malam itu juga kami membagi-bagikan manisan dan beberapa ikat bunga.

Hal  ini memiliki dampak positif di hati para penduduk setempat karena mereka tidak menyangka bahwa pemimpin Islam melakukan hal ini kepada agama al-Masih as.

Bahkan ketika saya mengetuk pintu rumah salah seorang penduduk setempat, saat itu seorang perempuan yang membukakan pintu kemudian saya memberikan hadiah Imam kepadanya, tampak darinya perasaan takjub dan saya menyaksikannya berlinang airmata.
Dan perilaku Imam ini memiliki dampak yang begitu besar di hati penduduk setempat bahkan sampai salah satu dari warga mewakili penduduk setempat meminta izin untuk bertemu langsung dengan Imam dan ingin berbincang dengannya. Imampun bertemu dengannya.
Dan di hari berikutnya datang 15 orang yang mewakili masyarakat setempat membawa beberapa ikat bunga hadiah untuk Imam.

Kemudian Imam berkata kepada penterjemahnya: “tanyakanlah tentang keadaan mereka dan katakan kepada mereka jika mereka memiliki hajat maka aku akan memenuhi hajatnya”

Mereka menjawab: “kami tidak memiliki hajat apapun, akantetapi kami datang karena ingin mengunjungi Imam dan bertemu dengan Imam dan melihat Imam dari dekat. Dan bunga-bunga ini kami bawa hadiah untuk beliau.”

Imam pun menerima satu persatu bunga tersebut sambil tersenyum, kemudian Imam duduk bersama mereka sampai mereka pergi dalam keadaan senang atas pertemuan ini.”

Ikhlas dalam Belajar-Mengajar

Syekh Hasan Tharrad (dama dzilluh) mendengar dari gurunya Sayyid Ismail as-Sadr bahwa beliau berkata: “salah seorang ulama datang ke Najaf al-Asyraf dan hadir di majlis ilmu almarhum Sayyid al-Khu’i, kemudian ditengah pelajran, beliau menyampaikan sanggahan ilmiah berkenaan dengan pelajaran yang sedang disampaikan oleh Sayyid al-Khu’i. Kemudian Sayyid dengan cepat mengakui kesalahannya dan sepakat dengan sanggahan ilmiah yang disampaikan oleh tamu yang baru datang, tanpa ada perdebatan sedikitpun diantara keduanya.

Hal ini diperhatikan dengan baik oleh salah seorang ulama dari murid-murid Sayyid al-Khu’i, kemudian dengan penasaran bertanya kepada Sayyid: ‘bagaimana anda dengan sangat mudah menerima sanggahan dari dia dengan secepat ini, dan tanpa perdebatan sedikitpun seperti kebiasaan anda, anda selalu berdepat dalam permasalah-permasalahan yang disampaikan oleh murid-murid anda dengan sangat detail?’

Maka Sayyid menjawabnya: ‘saya tadi lalai akan masalah ini, dan dia telah menyadarkanku akan hal ini, dan sungguh tidak benar bersikeras dalam kesalahan, setelah menyadarinya’.”

✨Aku hidup bersama kitab

Sayyid Kamal al-Haedari pernah bertanya kepada Gurunya seorang pemikir besar Islam Ayatullah Sayyid Muhammad Baqir as-Sadr: “jikalau ada yang bertanya kepada anda bagaimana Muhammad Baqir as-Sadr bisa menjadai Muhammad Baqir as-Sadr?”
Maka Sayyid Muhammad Baqir menjawab: “sesungguhnya Muhammad Baqir as-sadr sama dengan 10% belajar dan 90% berfikir.”
Sayyid Kamal kembali bertanya: “dalam sehari semalam berapa jam anda belajar?”
Sayyid Baqir as-sadr menjawab: “jangan bertanya seperti itu, bertanyalah dengan bentuk lain, bertanyalah kepadaku sehari semalam berapa jam anda bersama kitab?”
Aku berkata: “apa beda antara dua pertanyaan tersebut?”
Beliau menjawab: “jika kamu bertanya berapa lama anda belajar? Maka aku akan menjawab; aku belajar 10jam atau 8jam, akantetapi jika engkau bertanya ‘berapa jam anda bersama dengan kitab?’ maka aku sampaikan bahwa selama aku bangun dan tidak tidur maka aku selalu bersama kitab.

Bagaimana?

Ketika aku berjalan aku memikirkan persoalan yang aku ingin selesaikan, dan ketika aku berdiri mengantri di penjual daging  didalam pikiranku terdapat persoalan(lain) yang aku coba selesaikan, dan ketika aku duduk ingin menyantap hidangan makanan maka di dalam pikiranku terdapat persoalan yang aku ingin selesaikan, dan ketika aku membaringkan tubuhku untuk tidur didalam pikiranku terdapat persoalan lain yang ingin aku selesaikan oleh karenanya aku selalu bersama kitab. Kitab hidup bersamaku dan aku hidup bersama dengan kitab.”

Sayyid Nawab Al-Safawi

Ketika diwawancara oleh televisi Republik Islam Iran berkenaan dengan mengenang 38th syahidnya Sayyid Nawab al-Safawi, salah seorang sahabat beliau menceritakan bahwa: “beliau (Sayyid Nawab) pernah mengikuti Mu’tamar di Yordania berkenaan dengan masalah Palestina, dan disana Sayyid(Nawab) bertemu dengan Malik/Raja Husain, kemudian Sayyid berkata kepadanya: “sesungguhnya aku membenci para raja, akan tetapi engkau adalah Sayyid!”

Di dalam mu’tamar ini para hadirin berpendapat bahwa masalah Palestina adalah masalah kesukuan arab.

Maka Sayyid Nawab berdiri dan melaksanakan solat 2 rokaat kemudian beliau berdiri dengan Sorbannya yang menampakkan kewibawaannya, beliau berdiri di podium dan berkata: “jika kalian berbicara tentang kesukuan arab, maka aku adalah putra sebaik-baik Nabi as, dan Beliau saw adalah arabi, akan tetapi arab tidak memiliki nilai apa-apa jikalau tidak ada agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw, maka Islam lah yang menyelamatkan arab dari kubangan jahiliyah, dan telah memberinya nilai di dalam sejarah, dan arab tanpa Islam yakni tanpa nilai.”

Dan perkataan Sayyid Nawab ini membuat Sayyid Qutub begitu sangat terkesan.

Ketika ceramah singkat Sayyid tersebar di media dan sampai kepada Ben Gurion Perdana Mentri pertama Israil Zionis, dia berkata: “sesungguhnya dia ingin mengembalikan Islam, dia adalah orang yang berbahaya.!!”

Dan ketika mahkamah Syah di Iran mengumumkan hukuman mati untuk Sayyid dengan cara ditembak, Sayyid keluar dari tempat terdakwa dan menjatuhkan dirinya untuk sujud, hakim heran dan bertanya: “apakah kamu bersujud sedang kamu dalam keadaan seperti ini?!!”

Sayyid Nawab menjawab: “sungguh syahid di jalan Allah adalah impianku yang aku minta dari Allah dan aku mohon agar dapat meraihnya dari sejak dahulu, dan sekarang aku bersyukur kepada Allah atas ijabahnya atas pengkabulan permohonanku.”
Dan beliau menolak untuk ditutup kedua matanya, beliau berkata: “aku ingin melihat peluru yang keluar dari mulut senapan dan menghancurkan dadaku”
Mereka pun mengiyakan permintaannya, dan ketika mereka melepaskan tembakan maka Sayyid berteriak : “Allahu Akbar”.

Begitulah Pejuang Agung ini menghabiskan hidupnya dengan kesyahidan dan karamah dari Allah swt tahun 1334H.

Maka salam untuknya di hari kelahirannya dan di hari kesyahidannya serta di hari dia dihidupkan.”