​Harapan-harapan  para penghuni neraka yang tidak akan terealisasikan. 

Harapan-harapan  para penghuni neraka yang tidak akan terealisasikan. 
Dan kamu akan melihat orang-orang yang zalim ketika mereka melihat azab berkata: “Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia)?”

{as-Syura:44}
Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab ‘Kalau sekiranya aku dapat kembali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik’.

{az-zumar:58}
Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami daripadanya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim”.

{al-Mu’minun:107}
hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.

{al-Mu’minun:99-100}
Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin”.

{as-Sajadah:12}

Ya Rab, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang tidak menyesali perbuatannya di akherat kelak, dengan beramal soleh di dunia ini.

Kategori:Akhlak, Al-qur'an, HIKMAH

Melihat apa yang dilihat Rasulullah saw

Seorang Arif ditanya: “apa yang telah anda lakukan(amalkan) sehingga dapat melihat hal-hal yang gaib?”

Beliau balik bertanya: “apa yang kalian lakukan sehingga kalian tidak dapat melihat hal-hal yang gaib?”
Allamah Husain Thaba’thaba’i, di dalam kitab tafsir al-mizan menukil dari kitab-kitab ulama Ahlu sunnah yang mengatakan bahwa

 Rasulullah saw bersabda: “jika engkau tidak memperbanyak perkataanmu, dan tidak membuat kekacauan dan keributan di dalam hatimu, maka niscaya engkau dapat melihat apa yang aku lihat da dapat mendengar apa yang aku dengar.”
Naam ya Rasulullah, kami masih sangat banyak berbicara yang tidak perlu dan tidak pantas, dan kami masih tidak dapat menjaga pintu hati, sehingga membiarkan yang tidak pantas masuk dengan leluasa memasuki hati kami. 
Ya Rasulullah, bimbinglah kami di akhir sya’ban menjelang Ramadhan agar dapat meneladanimu sehingga meraih ridhamu dan syafaatmu. “

Bertaklid yang benar

Syahid Muthohari qs dalam salah satu ceramah beliau yang juga terdapat salah satu bukunya Dah Guftor, halaman 121 menyampaikan sebuah hadis yang ma’ruf dari Imam Ja’far as.
Syahid Muthohari menyampaikan: “terdapat sebuah hadis yang menceritakan bahwa seseorang datang kepada Imam Ja’far as dan mengatakan: “orang-orang awam dan orang-orang buta huruf yahudi tidak mempunyai jalan lain kecuali menerima dan mengikuti apa yang mereka dengar dari para ulama mereka. Jika terjadi kesalahan, maka kesalahan itu merupakan kesalahan para ulama yahudi. Mengapa al-Quran mengecam orang-orang awam yang tidak mengetahui apa-apa dan hanya mengikuti para ulama mereka? Lalu bedanya apa antara orang-orang awam yahudi dan orang-orang awam kita? Jika taklidnya orang awam kepada ulama itu tercela, maka orang-orang awam kita pun yang bertaklid kepada para ulama kita harus mendapat celaan. Jika orang-orang awam yahudi tidak boleh menerima perkataan para ulama mereka, maka orang-orang awam kita pun tidak boleh menerima perkataan para ulama kita.”
Imam  Ja’far as menjawab: “antara orang-orang awam kita dan para ulama kita dengan orang-orang awam yahudi dan para ulama yahudi, memiliki perbedaan dari satu sisi dan memiliki persamaan dari sisi lain.  Dari sisi kesamaan yang ada diantara mereka, Allah swt pun mencela orang-orang awam kita yang bertaklid sebagaimana taklidnya orang-orang awam yahudi kepada para ulama mereka. Adapun dari sisi yang lain berbeda, maka Allah swt tidak (mencela).”
Orang itu berkata lagi: “wahai putra Rasulullah, terangkanlah.!”
Imam Ja’far as pun menjelaskan: “orang-orang awam yahudi tahu dan melihat bahwa para ulama mereka secara terang-terangan berdusta, tidak menjauhi suap, dan mengubah-ubah hukum karena suap, mereka juga mengetahui bahwa para ulama mereka bersikap fanatik atau sentimen kepada beberapa orang, kecintaan dan kebencian kepada seseorang ikut campur di dalam penetapan keputusannya, dan memberikan hak seseorang kepada orang lain.”
Lalu Imam Ja’far as berkata: “dengan pengetahuan yang secara fitri ada di dalam hati mereka, mereka mengetahui bahwa siapa saja yang melakukan perbuatan-perbuatan tersebut, maka dia adalah fasik, orang tersebut tidak boleh diikuti, dan tidak boleh firman Allah dan sabda Rasulullah yang disampaikan oleh lidahnya diterima.”
Disini, Imam ingin mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang akan mengatakan bawa orang-orang awam yahudi tidak tahu bahwa tidak boleh mengamalkan perkataan ulama yang seluruh ucapan dan perbuatannya bertentangan dengan perintah-perintah agama. Karena, masalah ini adalah masalah yang diketahui setiap orang. Pengetahuan tentang hal ini adalah sesuatu yang Allah swt telah letakkan pada fitrah setiap orang, sehingga semua orang mengetahuinya.

Menurut istilah ahli mantiq(logika), ini termasuk ke dalam kategori “premis yang argumentasinya bersamanya” (qiyasatuha ma’aha). Seseorang yang filsafat wujudnya adalah kesucian dan meninggalkan hawa nafsu, jika dia mengikuti hawa nafsunya dan menghamba kepada dunia, maka menurut seluruh hukum akal, perkataannya tidak boleh didengar.
Lalu Imam Ja’far as melanjutkan perkataannya: “demikian juga halnya dengan orang-orang awam kita. Jika mereka mengetahui pada diri para ulama/fukaha mereka terdapat perbuatan fasik yang jelas, dan fanatisme yang kuat, serta ketamakan terhadap harta duniawai dan keharamannya, dan menghancurkan orang-orang yang menentangnya meskipun mereka itu layak mendapat perlakuan yang baik, berlaku baik kepada orang-orang yang mendukung dan fanatik kepadanya meskipun mereka itu layak untuk dihinakan. Barangsiapa di antara orang-orang awam kita bertaklid kepada orang-orang seperti mereka, maka mereka itu tidak ubahnya seperti orang-orang awam yahudi yang dicela oleh Allah swt, karena bertaklid kepada para fukaha mereka yang fasik.”

Jadi, jelas bawah taklid yang terpuji dan dibolehkan bukanlah “menyerahkan diri” dan menutup mata. Melainkan membuka mata dan mengawasi. Jika tidak, berarti ikut serta 

Bersungguh-sungguh dalam mencari rizki 

Disebutkan dalam riwayat bahwa datang seorang laki-laki menemui Imam Ja’far al-Sodiq as dalam keadaan miskin dan memprihatinkan.
Dia berkata kepada Imam as: “wahai Pemimpinku, tolong doakan aku agar Allah memberiku rizki, sesungguhnya aku seperti yang engkau lihat dalam keadaan miskin dan tidak memiliki persediaan makanan walaupun hanya untuk sehari”
Imam as menjawab: “aku tidak akan berdoa untukmu”
Dia bertanya: “mengapa engkau tidak mau berdoa untukku?”
Imam as menjawab: “sesungguhnya Allah swt memerintahkan kita untuk bersungguh-sungguh dalam mencari rizki dan melarang mewakilkannya, adapun jika kamu duduk di rumahmu kemudian bertawasul dengan doa untuk mendapatkan rizkimu maka hal ini adalah yang tidak diridhoi oleh Allah swt, maka berusahalah dalam mencari rizki sebagaimana apa yang Allah swt perintahkan kepadamu”

📚Usul Kafi jilid 2.

4 Nasehat Lukman al-Hakim

Lukman al-Hakim dalam nasehatnya kepada putranya berkata:
“Wahai putraku, aku telah berkhidmat kepada 400 Nabi as dan aku ambil dari perkataan Mereka as 4 kalimat. 

Dan itu adalah:
1. Jika kamu berada dalam solat maka jagalah hatimu.
2. Jika kamu berada dalam hidangan makanan maka jagalah tenggorokanmu(dari makanan haram).
3. Jika kamu berada dalam rumah orang lain maka jagalah matamu/pandanganmu.
4. Jika kamu berada diantara masyarakat maka jagalah lisanmu.”

📚al-Mawaid al-Adadiah.

Apa Rizki itu?

(Syekh Hasan Zadeh Amuli)
Apa Rizki itu?

ialah kata yang lebih tinggi dari apa yang orang-orang sangka. Tahukah kamu bahwa shalat yang kamu laksanakan itu rizki dari Allah. melihat, banyak orang tidak melaksanakan shalat.
Zikir yang kamu baca pagi dan sore, adalah rizki.

Termasuk ketika kamu tidur lalu terbangun sendiri dan tanpa melihat jam kamu melakukan solat(sunnah), juga merupakan rizki. Karena sebagian orang tidak bangun saat itu.
Ketika kamu menghadapi cobaan lalu Allah memberimu kesabaran kamu menutup mata dari cobaan, kesabaran itulah rizki.
Ketika kamu membawakan segelas air minum ke hadapan orangtuamu di rumah, kesempatan berbakti ini adalah rizki.
Terkadang dalam shalat perhatianmu bercabang. Lalu kamu kembali pada dirimu dan melaksanakan shalat dengan khusyu’. Perhatian ini merupakan rizki.
Ketika kamu ingat pada Imam Zaman af, lalu mengucapkan salam kepadanya dan hatimu rindu kepadanya. Ini adalah rizki yang nyata.
 Rizki shalihin bukanlah mobil atau gaji. 

Rizki berupa harta benda ialah yang Allah berikan kepada semua orang.
 Sedangkan rezki shalihin ialah yang Allah berikan kepada para kekasih-Nya.
Ya Allah, Engkau telah baguskan fisikku… maka Baguskanlah akhlakku…

Kategori:Akhlak, HIKMAH, Ulama

Ayah kita satu, maka kita adalah saudara

Ketika Imam Musa al-Kadhim as melihat seorang fakir maka beliau duduk disebelahnya di bangunan yang sudah rusak yang tak terpakai. 

Kemudian beliau as berkata kepadanya:

“kamu butuh sesuatu? katakanlah maka Saya akan melakukannya untukmu”
Fakir berkata: “engkau adalah Seorang Imam, duduk di bangunan rusak ini?”
Imam as memandanginya kemudian berkata:

“ayah kita satu, maka kita adalah saudara. Kota kita satu, maka kita adalah tetangga. Tuhan kita satu maka kita adalah Hamba-hambaNya, lalu apa yang menyebabkanku tidak bisa duduk disini”