Menghadapi Musuh

‍ ” Mengenai orang yang menjadi lawan Anda, ada dua bentuk sikap yang dapat dilakukan; satu berkata sesuai realitas dan yang lain berkata dengan perkataan yang mengandung kezaliman terhadapnya. Bentuk kedualah yang buruk dan harus dihindari. Sikap yang benar adalah mengemukakan pernyataan yang sekiranya patut Anda utarakan di pengadilan Ilahi, dan tidak lebih dari itu. Ini adalah salah satu garis besar gerakan dan khittah Imam Khomeini yang harus selalu kita ingat.”
Sayyid Ali Khamenei hf.

Kategori:Akhlak, Ulama

​Kedudukan Fatimah az-Zahra.

Kedudukan dan maqam az-Zahra as di dunia Islam menjelaskan bahwa az-Zahra as beserta Imam Ali as dan putra-putra mereka yang suci telah membentuk madrasah Imamah yang memegang bendera kebenaran setelah Rasulullah saw dan mengemban kalimat Allah swt serta menjaganya dari penyelewengan dan kesesatan.

Ayat-ayat serta hadis-hadis yang menyebutkan kedudukan Fatimah as  seperti : 

Ayat at-Tathir  yang mana Allah swt berfirman: “sesungguhnya Allah swt hendak menjauhkan segala kotoran/dosa dari kalian (hai)  Ahlulbayt dan mensucikan kalian sesuci-sucinya.” (surat al-Ahzab ayat 33). Seluruh ahli tafsir menjelaskan bahwa ayat ini turun kepada Ali, Fatimah, dan kedua putranya yakni al-Hasan dan al-Husain. Hal ini disebutkan dengan lafadz yang sedikit berbeda namun memiliki makna yang sama seperti  dalam kitab sohih Muslim, sohih Turmudzi, kitab al-Khosois, tafsir at-Thobari, dan al-Suyuthi dalam al-Dur al-Mantsur dan dalam kitab yang lainnya. 

Disebutkan dalam riwayat bahwa Ummu Salamah istri Nabi saw berkata: “sesungguhnya ayat ini turun didalam rumahku, ketika itu Nabi saw memanggil Ali dan Fatimah serta al-Hasan dan al-Husain. Kemudian Nabi saw menutupi mereka dengan kain khaibariyah dan Nabi saw berdoa: ‘ya Allah, mereka adala Ahlu baitku maka jauhkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya’ maka turunlah ayat ‘sesungguhnya Allah swt hendak menjauhkan dosa dari kalian wahai Ahulbait dan mensucikan kalian sesuci-sucinya’. Ummu Salamah melanjutkan: “ketika itu aku bertanya kepada Nabi saw: “apakah aku dari Ahulbaitmu?” Nabi saw menjawab: “tidak, akantetapi engkau dalam kebaikan”

  Dan setelah ayat at-tathir ini turun sejarah mencatat bahwa Rasulullah saw setiap melewati rumah Fatimah as dan hendak menunaikan solat subuh maka Rasulullah saw berkata: “as-Solah, wahai Ahlulbayt” kemudian Rasulullah saw membacakan ayat at-Tathir. Dalam riwayat at-Turmudzi dijelaskan bahwa Rasulullah saw melakukan hal ini secara rutin setiap hari selama 6 bulan. Dan dalam riwayat Sohibul kitab al-Dur al-Mantsur  selama 8 bulan berturut-turut. Serta dalam riwayat yang disampaikan oleh penulis Usdul Ghobah Rasulullah saw melakukan hal itu selama 9 bulan berturut-turut. Dan ini semua tidak lain karena Rasulullah saw ingin menjelaskan kepada umat bahwa siapa yang dimaksud Ahlulbayt yang telah disucikan sesuci-sucinya oleh Allah swt. Serta ini menunjukkan kemaksuman Ahlulbayt as dari dosa dan kesalahan, dan ini menunjukkan bahwa mereka adalah jalan yang lurus yang dengannya manusia dapat sampai kepada kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah saw dari sisi Allah swt.

Ayat Mubahalah, ayat 61 surat Aali-Imran. Ayat ini menjelaskan tentang peristiwa mubahalah(yakni meminta kepada Allah swt agar menurunkan laknat kepada yang berdusta) antara Nabi saw dan kaum nasrani yang menolak kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah saw. Seluruh ahli tafsir menjelaskan bahwa keluarga Nabi saw yang diajak oleh beliau saw untuk bermubahalah adalah Ali, Fatimah, Hasan dan Husain as, tidak selainnya. 

Dijelaskan oleh Saad ibn abi waqash bahwa: “ketika ayat ini turun (katakanlah <kepada mereka>: ‘marilah kita mengajak anak-anak kami dan anak-anak kalian, perempuan-perempuan kami dan perempuan-perempuan kalian, diri-diri/jiwa kami dan diri-diri kalian..’ maka Rasulullah saw mengajak Ali,Fatimah, Hasan dan Husain kemudian beliau saw berkata: “ya Allah, sesungguhnya mereka adalah keluargaku” (Sohih Muslim, jilid 4, kitab fadhail Ali ibn abi Thalib, at-Turmudzi dalam Sohihnya juga menulis riwayat yang serupa begitu juga al-wahidi dalam asbabun nuzul dan al-baihaqi dalam al-Dalail. 

Dan ketika mereka melihat rombongan yang dibawa oleh Rasulullah saw maka mereka pun menyerah karena takut akan akibat yang akan diterimanya jika tetap melakukan mubahalah.

Ayat ini menunjukkan betapa agungnya Ahlulbait as yang merupakan orang-orang yang diajak oleh Rasulullah saw untuk bermubahalah dengan orang-orang nasrani yang menolak kebenaran dari Rasulullah saw.
Ayat Mawaddah, surat asy-syura ayat 23. 

“katakanlah : “aku tidak meminta upah dari kalian atasnya(Islam) kecuali kecintaan kepada al-Qurba” banyak dari para ahli tafsir menjelaskan bahwa ayat ini terkhusus untuk Ali, Fatimah, dan kedua putranya yakni al-Hasan dan al-Husain as, dan mewajibkan umat Islam untuk mencintai mereka yakni kecintaan kepada mereka menjadi upah atas jerih payah Rasulullah saw dalam menyampaikan agama Allah swt kepada umat.

Dijelaskan bahwa ibn Abbas berkata: “ketika ayat ini turun, para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw: “wahai Rasulullah, siapakah kerabatamu(al-Qurba) yang wajib bagi kami untuk mencintai mereka.”

Rasulullah saw pun menjawab: “mereka adalah Ali, Fatimah, dan kedua putranya.”

Riwayat ini ditulis oleh Ahmad ibn Hanbal, al-Thabarani, ibn Abi Hatim serta al-Hakim.

Dan masih banyak lagi ayat yang menjelaskan tentang kedudukan dan ketinggian derajat Fatimah as dan Ahlulbait as.
Adapun hadis-hadis Nabi saw yang menjelaskan keagungan Fatimah as sangatlah banyak dan tidak mungkin dalam tulisan singkat ini dapat menyebutkan semua hadis Nabi saw tersebut. Akantetapi disini kita akan menyebut sedikit darinya.

Disebutkan didalam riwayat bahwa Rasulullah saw bersabda: “sesungguhnya Fatimah adalah bagian dariku sungguh telah menyakitiku yang menyakitinya”. Sohih Muslim jilid 4 hal 1903

Dan dari Abi Hurairah ad-Dusi berkata: “sesungguhnya Rasulullah saw memandang  Ali dan Fatimah serta al-Hasan dan al-Husain kemudian beliau saw bersabda: ‘aku akan memerangi orang yang memerangi kalian dan aku akan berdamai dengan orang yang berdamai dengan kalian”. Riwayat ini disampaikan oleh Ibn Hanbal di dalam musnadnya.

Dan dijelaskan oleh al-Bukhori dalam sohihnya serta Muslim dan al-Turmudzi/al-Tirmidzi dan Abu Daud, Ahmad Ibn Hanbal serta Ibn hajar dan al-Kanji al-Syafi’i dalam kitab mereka bahwa sesungguhnya Nabi saw bersabda: “Fatimah adalah bagian dariku, siapa yang menyakitinya maka sungguh telah menyakitiku dan yang telah menyakitiku maka sungguh telah menyakiti Allah swt.”

Dan sejarah mencatat bagaimana Rasulullah saw mengagungkan Fatimah as dan memuliakannya dimana setiap Rasulullah saw hendak melakukan perjalanan maka orang terakhir yang temui adalah Fatimah as, dan ketika kembali dari perjalanannya maka Rasulullah saw akan bergegas menuju masjid dan melaksanakan solat dua rokaat kemudian orang pertama yang beliau saw temui adalah Fatimah as.  Hal ini dijelaskan oleh an-Naisaburi dalam al-Mustadrak dan al-Baihaqi serta Abu Daud.

Riwayat juga menjelaskan bahwa setiap kali Fatimah as menemui Rasulullah saw maka beliau saw akan berdiri dan menyambut Fatimah as kemudian menciumnya. 

Ibn Hajar dari ibn Hanbal menjelaskan bahwa Rasulullah saw berkenaan dengan putrinya yakni az-Zahra as beliau saw bersabda: “semoga ayahnya menjadi tebusan untuknya, semoga ayahnya menjadi tebusan untuknya, semoga ayahnya menjadi tebusan untuknya.”  Hal ini menunjukkan begitu besarnya cinta Nabi saw kepadanya, dan menjelaskan betapa agung kedudukannya disisi Rasulullah saw.

Dan masih sangat banyak lagi hadis yang menyingkap keagungan putri Nabi saw yang bisa kita temui di dalam kitab-kitab hadis Ulama Islam baik dari Ahlu Sunnah maupun Syiah.

​Karomah Fatimah as 

Di dalam al-Quran kita membaca bagaimana karomah Sayyidah Maryam as ketika mendapatkan buah-buah dari langit dan ketika beliau as melahirkan seorang Nabi as sedangkan beliau as memiliki anak tanpa ada seorang lelaki yang telah menyentuhnya. Al-Quran menjelaskan beberapa karomah auliya Allah swt, seperti Asif ibn Barkhiya yang dapat memindahkan singgasana Ratu Saba’ dan banyak lagi. 

Berkenaan dengan Sayyidah Fatimah as maka banyak sekali karomah beliau as yang disebutkan dalam riwayat dan dalam hadis yang dinukil oleh banyak ulama Islam. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut: 

Berbicara dengan ibundannya ketika masih berada dalam perut.

Dijelaskan bahwa ketika Sayyidah Khodijah as mengandung, Sayyidah Fatimah as dari dalam perut berbicara dengannya, ada beberapa riwayat yang menjelaskan hal ini; 

Sayyidah Khodijah as berkata: 

“و لما حملت بفاطمة كانت حملا خفيفا و تكلمني من باطني”

“dan ketika aku mengandung Fatimah, itu adalah kandungan yang sangat ringan(tidak memberatkanku) dan di a berbicara denganku dari dalam perutku”

(Abdurrahman Syafi’i, Nazhatul majalis jilid 2 halaman 227. Syarh Ihqaqul Haq, jilid 10 halaman 12. )

Dahlawi menjelaskan bahwa ketika Khodijah as mengandung Fatimah as, beliau as berbicara dengan ibundanya dari dalam perutnya dan Khodijah as menyembunyikan hal ini dari Rasulullah saw. Sampai suatu ketika Rasulullah saw memasuki ruangan Khodijah as dan melihat dia sedang berbicara tanpa ada seorang pun berada di sekitarnya. 

Kemudian Rasulullah saw bertanya: “kepada siapa kamu berbicara?”

Khodijah as menjawab: “dengan janin yang berada di dalam perutku”

Rasulullah saw pun bersabda: “bergembiralah wahai Khodijah, (janin) ini adalah perempuan yang Allah swt akan menjadikannya ibu dari 11 khalifah-khalifahku, mereka akan keluar (mejadi Imam) setelahku dan setelah ayah mereka.”

(Uyunul Mu’jizat halaman 51.)
Turunnya para wanita terbaik surga dalam kelahiran Fatimah as.

Ketika masa kelahiran Fatimah as, Khodijah as memberi pesan kepada para wanita Quraisy dan Bani Hasyim untuk membantunya dalam kelahiran, akan tetapi mereka menolak Khodijah as. Di saat itu Khodijah as merasa kesepian dan bersedih, kemudian datanglah 4 wanita terbaik surga.

Salah satu dari mereka berkata: “janganlah takut, sesungguhnya Allah swt telah mengutus kami untuk membantumu. Kami adalah saudari-saudarimu dan yang akan membantumu. Saya adalah Sarah, ini adalah Asiyah Putri Muzahim, dan  ini adalah Maryam putri Imran, serta ini adalah kultsum saudari Musa ibn Imran. Allah swt mengutus kami untuk membantumu dan merawatmu.” 

Salah satu dari mereka berada di sebelah kanan, ada yang di sebelah kiri serta ada yang di belakang dan di depan Khodijah as sampai lahirlah Fatimah as suci ke dunia.

Kemudian datanglah 10 bidadari dan setiap dari mereka membawa wadah dari surga yang berisi air kautsar, kemudian Fatimah as dimandikan dengan air kautsar. Setelahnya beliau as diletakkan di atas kain lebih putih dari susu dan lebih wangi dari wangi misik kemudian beliau as ditutupi dengan kain tersebut.”

(Biharul Anwar jilid 16 halaman 80,  Amali as-Soduq halaman 476, Manaqib Ibn Syahr Asyub, jilid 3 halaman 304.)

Terangnya Makah dan dunia dengan cahaya kelahiran Fatimah as.

Karomah yang lain berkenaan dengan kelahiran Sayyidah Fatimah adalah saat beliau as memancar darinya cahaya yang menerangi Mekah dan bahkan dunia ini. 

Dijelaskan di dalam riwayat bahwa Imam Ja’far Sodik  as berkata: 

فلما سقطت الى الارض أشرق منها النور حتى دخل بيوتات مكة…..

“dan ketika beliau as lahir maka memancar darinya cahaya sampai memasuki rumah-rumah di kota Mekah…”

(Biharul Anwar jilid 16 halaman 80-81, jilid 43 hal 3. )

Atau dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa 

وبشر اهل السماء بعضهم بعضا بولادة فاطمة و حدث في السماء نور زاهر لم تراه ملائكة قبل ذلك

“dan para penduduk langit saling mengucapkan selamat dan menyampaikan kabar gembira atas kelahiran Fatimah as dan terdapat cahaya yang bersinar di langit yang belum pernah dilihat oleh para malaikat sebelumnya…” 

(Biharul Anwar jilid 43, halaman 3. Baitul Ahzan, Syekh Abbas Qummi, hal 23. Ghayatul Maram, jilid 2 hal 211. Dan kitab-kitab yang lainnya)

Dalam kitab ar-Raudh al-Faiq yang ditulis oleh Syuaib ibn Saad Misri dijelaskan bahwa: 

فلما تم امد حملها و انقضى و وضعت فاطمة فأشرق بنور وجهها الفضاء

“Ketika telah tiba waktu melahirkan dan Fatimah as telah lahir maka seketika seluruh ruangan menjadi terang karena cahaya wajahnya (Fatimah)” 

(ar-Raudh al-Faiq, halaman 214.)

Sujud ketika lahir

Dijelaskan di dalam riwayat bahwa ketika lahir beliau as langsung sujud di atas tanah.

 Sayyidah Khodijah berkata:

فولدت فاطمة, فوقعت على الارض ساجدة رافعة اصبعها

“saat Fatimah lahir dia langsung sujud di atas tanah sambil mengangkat jari jarinya”

(Yanabi’ul Mawaddah,jilid 2 hal135. Sirathal Mustaqim, hal170)

Mengucapkan Dua Kalimat Syahadat 

Dijelaskan di dalam riwayat bahwa ketika Fatimah as lahir ke dunia, beliau as mengucapkan dua kalimat syahadat dan bersaksi akan kepemimpinan Imam Ali as setelah Rasulullah saw.

Dalam penjelasan panjangnya berkenaan dengan kelahiran Fatimah as,  Imam Ja’far as berkata: 

فنطقت فاطمة عليها السلام بالشهادتين و قالت: ” أشهد أن لا اله الا الله و أن ابي رسول الله سيد الأنبياء و أن بعلي سيد الأوصياء و ولدي سادة الأسباط…”

“maka Fatimah mengucapkan dua kalimat syahadat dan berkata : ‘aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan sesungguhnya Ayahku adalah Rasulullah,  pemimpin para Nabi dan sesungguhnya suamiku adalah pemimpin para washi serta putra-putraku adalah pemimpin seluruh cucu (para Nabi dan Rasulullah as)…”

(Biharul Anwar, jilid 43 halaman 3. Baitul Ahzan, halaman 23)

Dalam Riwayat yang menjelaskan karomah Sayyidah Fatimah as ini terdapat dua hal.  Pertama, beliau as dapat berbicara ketika baru lahir dan kedua, beliau as langsung bersaksi akan Tauhid, Nubuah (Ayah beliau) dan Imamah (Suami dan Putra-putra beliau). 

Ini adalah sedikit dari karomah Sayyidah Fatimah as ketika beliau as masih dalam kandungan dan ketika beliau as lahir ke dunia ini. Masih banyak lagi karomah beliau as yang dicatat oleh sejarah.

Semoga setiap hari kecintaan terhadap belahan jiwa Nabi saw semakin bertambah dengan bertambahnya pengetahuan tentang beliau as. 

Kategori:Ahulbayt

​Fatimah az-Zahra as

Rasul saw bersabda : “sesungguhnya Fatimah adalah bagian dariku, sungguh telah menyakitiku orang yang menyakitinya”. Sohih Muslim, jilid 4 bab Fadhail Fatimah hal: 1903

Kelahiran yang diberkahi.

Allah swt menghendaki agar Fatimah as terlahir di dunia setelah risalah kenabian Nabi Muhammad saw bersinar di dunia ini. Menurut riwayat yang paling masyhur beliau as terlahir setelah 5 tahun kenabian Nabi Muhammad saw. Yakni tanggal 5 jumadil akhir, setelah Rasulullah saw diutus menjadi seorang Nabi selama 5 tahun.

Beliau as lahir diawal masa kenabian yang saat itu para musyrikin sedang gencar-gencarnya mengganggu dan berusaha sebisa mungkin menggagalkan risalah Islam. Mereka bahu membahu berusaha untuk memadamkan cahaya Islam.

Dan usaha mereka hari demi hari semakin kuat untuk menghentikan risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw, bahkan perempuan-perempuan quraisy memutus hubungan dari Khodijah as karena Khodijah as adalah istri Rasulullah saw. 

Beliau as lahir di masa pengorbanan Sayyidah Khodijah as untuk jalannya risalah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Maka tidak mengherankan jika Allah swt menjaga kelahiran dengan mengutus para wanita surga bahkan para wanita terbaik penghuni surga. Yakni;

Sayyidah Maryam yang merupakan penghulu wanita di zamannya.

Sayyidah Sarah istri Nabi Ibrahim as.

Sayyidah Asiyah putri Muzahim istri Fir’aun.

Sayyidah Kultsum saudari Nabi Musa as putra Imran.

Mereka semua turun ke bumi guna membantu Sayyidah Khodijah as dalam proses kelahiran Sayyidah Fatimah as.

Mungkin sebagian orang tidak menganggap hal ini sebagai sesuatu yang agung atau bahkan ada yang meragukan peristiwa agung ini.

Sebenarnya problem atau keraguan mereka akan hilang jika mereka mengingat bahwa peristiwa semacam ini terjadi di rumah kenabian, rumah naik turunnya para malaikat, terjadi di dalam rumah utusan terbaik Allah swt untuk makhluk-Nya yakni Nabi Agung Muhammad saw.

Dan jika kita merujuk kepada hadis dan riwayat tentang keagungan bayi suci yang lahir tersebut dan ibundanya as maka kita akan mengetahui lebih banyak lagi hal-hal yang lebih mencengangkan yang menjelaskan tentang keagungan manusia-manusia suci tersebut. Dan Allah swt memiliki tujuan yang sangat agung dalam peristiwa-peristiwa tersebut.

Ketika lahir, Rasulullah saw menyambutnya dengan penuh kegembiraan yang tampak pada wajah sucinya. Beliau saw pun mengucapkan selamat kepada Sayyidah Khodijah as atas kelahiran putri yang sangat diberkahi. Kemudian beliau saw memberinya nama “Fatimah” dan memberinya laqab az-Zahra.  Dalam sejarah disebutkan bahwa Nabi saw memberinya banyak laqab seperti as-Siddiqah, al-Batul, al-Mubarakah, at-Thahirah, dan yang lainnya. Dan setiap laqab/gelar yang diberikan kepadanya memiliki penjelasan dan keterangan yang sangat dalam yang menjelaskan tentang keagungan Fatimah as di sisi Allah swt dan disisi Rasulullah saw serta di dalam agama Islam.

Persiapan Nabawi dalam mendidik Fatimah as

Dan mulai dari awal kelahiran az-Zahra as, Nabi Agung Muhammad saw dan Sayyidah Khodijah as menyuapi putri kecilnya dengan hidayah dan kesucian serta kemuliaan. Maka ruh dan sisi maknawi beliau as pun tumbuh dengan sangat baik berkat pendidikan Rasulullah saw.

Persiapan Nabawi  yang dilakukan Rasulullah saw untuk Fatimah as serta pendidikan yang diberikan Rasulullah saw kepada Fatimah as bukan semata karena cinta dan kasih sayang seorang ayah terhadap putrinya.  Sesungguhnya persiapan dan pendidikan itu memiliki tujuan dan misi yang agung, dan itu adalah perintah yang Allah swt inginkan untuk kelangsungan Islam. 

Allah swt menghendaki agar Fatimah as mendapatkan pendidikan dan perhatian yang khusus dari Rasulullah saw supaya Fatimah as dan Ali as dapat mendirikan pondasi keimamahan. Dari sini akan terlihat rahasia agung ketika Rasulullah saw lebih memilih Ali as dari anak-anak Abu Thalib untuk dipersiapkan dan untuk dididik dari semenjak umur 6 tahun. Dan jika masalah ekonomi yang menimpa Abu Thalib dapat beliau atasi sendiri, maka Rasulullah saw akan mencari alasan lain agar  dapat memilih Ali as dan kemudian dapat beliau saw didik dan beliau saw bimbing untuk misi yang sangat agung yakni berkenaan dengan Keimamahan untuk umat Islam.

Jika kita membaca sejarah dan riwayat yang ada baik dari kalangan Ahlu Sunnah maupun Syiah maka kita akan melihat begitu banyak riwayat yang menjelaskan tentang keagungan Imam Ali as dari semenjak mendapat didikan dan bimbingan Rasulullah saw. Dan Imam Ali as pun menjelaskan bahwa: “dan sungguh aku senantiasa mengikuti/menyertai Beliau saw sebagaimana anak onta mengikuti induknya, setiap hari akhlak beliau saw selalu menyingkap ilmu baru untukku dan beliau saw memerintahku untuk mengikutinya…”

Dan dikarenakan persiapan nabawi tersebut maka Imam Ali as menjadi jiwa Nabi saw sesuai nas al-Quran dalam ayat mubahalah (surat Aali Imran ayat 61). Dan  Ali menjadi pintu kota ilmu Nabi saw sesuai penjelasan Nabi saw yang mana beliau saw bersabda: “aku adalah kotanya ilmu sedangkan Ali adalah pintunya” . dan berbagai macam ayat dan hadis seputar keagungan Imam Ali as.

Dan begitulah, tangan yang penuh berkah yang mendidik dan membibing az-Zahra as adalah tangan yang mendidik dan membimbing Imam Ali as untuk menjadi ayah para Imam Ma’sum as dan beliau as menjadi Imam pertama, serta az-Zahra as menjadi ibu para Imam Ma’sum as yang mana garis keimamahan tumbuh dari pangkuannya. 

Jika Rasulullah saw mempersiapkan Imam Ali as agar menjadi jiwa beliau saw dan menjadi pintu kota ilmu Nabi saw serta menjadi wasi Nabi saw, maka persiapan yang dilakukan Rasulullah saw kepada az-Zahra as menjadikan az-Zahra as memiliki maqam sangat tinggi setelah Rasulullah saw dan suaminya yakni Imam Ali as, dan menjadikannnya sebagai penghulu para wanita di seluruh alam, beliau as adalah bagian dari diri Rasulullah saw yang mana Rasulullah saw selalu menjelaskan kepada ummat bahwa beliau saw akan mencintai orang yang mencintai Fatimah as dan membenci orang yang membenci Fatimah as.

Kategori:Ahulbayt

Jangan Marah


قال رجل اوصني، فقال رسول الله صلى الله عليه و آله و سلم: لا تغضب، ثم أعاد علیه، فقال لا تغضب، ثم قال : لیس الشدید بالصرعة انما الشديد الذي يملك نفسه عند الغضب. 
تحف العقول صفحه 47

Seseorang berkata (kepada Rasulullah SAW), ‘Nasehatilah aku!’ Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Jangan marah!” Ia lalu mengulangi kata-katanya dan Nabi SAW pun menjawabnya, “Jangan marah!” Beliau lantas bersabda, “Orang yang kuat bukan orang yang punya kekuatan merobohkan (lawannya), tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” 
(Tuhaf Al-Uqul halaman 47)

Kategori:Akhlak, Hadis

Fatimah bagian dari Nabi Muhammad saw

قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم: “فاطمةُ بضعةٌ منّي من آذاها فقد آذاني، ومن آذاني فقد آذى الله”.
Rasulullah saw bersabda: “Fatimah adalah bagian dariku, siapa yang menyakitinyanya maka telah menyakitiku, dan siapa yang menyakitiku maka telah menyakiti Allah swt.”

Fatimah az-Zahra as dalam pandangan Imam Ali as

Berkenaan dengan Fatimah az-Zahra as, Imam Ali as berkata:

“Demi Allah, aku tidak pernah membuatnya marah dan tidak pernah memaksanya dalam hal apapun, sampai Allah swt mengambil ruhnya.

Dan (begitu pula sebaliknya) dia tidak pernah (sekalipun) membuatku marah dan tidak pernah tidak taat kepadaku dalam hal apapun.

Dan setiap kali aku melihatnya maka kegundahan dan kesedihan akan pergi dariku.”

📚Baitul Ahzan. 53

Kategori:Ahulbayt, Akhlak, Hadis